Mari mengenal Autisme Spectrum Disorder terkait Kesehatan Mental

Indonesia memiliki perkembangan Kesehatan Mental yang cukup cepat. Salah satu Kesehatan Mental yang menjadi perhatian warga Indonesia ialah Autisme Spectrum Disorder (ASD)

Mari mengenal Autisme Spectrum Disorder terkait Kesehatan Mental

Saat ini perkembangan kesehatan mental di Indonesia salah satunya terkait Autisme Spectrum Disorder (ASD) menjadi perhatian masyarakat.

Karena isu kesehatan mental tersebut telah dibahas ketika drama korea yang menjadi trendi topik di indonesia, yaitu drama extraordinary attorney woo.

Dalam drama tersebut menceritakan perjuangan seorang pengacara muda yang mengalami Autisme Spectrum Diisorder (ASD) dalam mengungkapkan kasus kejahatan di Pengadilan.

Istilah ASD atau Autisme Spectrum Disorder tersebut juga bukan merupakan istilah baru di masyarakat indonesia,

hal ini karena telah dikenalkan pada tahun 2013 melalui Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5TR) yang telah dikeluarkan oleh American Psychiatric Association.

Dalam panduan tersebut menyatakan bahwa Autisme telah masuk dalam kategori ASD yang mengacu gangguan perkembangan syaraf.

Walaupun ASD digunakan sebagai istilah umum yang mengacu pada kelainan perkembangan syaraf otak,

namun masyarakat tetap menggunakan istilah Autisme dibandingkan dengan istilah dari ASD.

Berbagai karakteristik dari ASD atau Autisme Spectrum Disorder yang telah diperkenalkan dalam drama korea Extraordinary Attorney Woo terdiiri dari kesulitan dalam memahani komunikasi sosial.

Dimana kesulitan komunikasi verbal dan non verbal, kurang dalam bersosialisasi,

serta memiliki aktivitas yang terbatas dan berulang-ulang.

Kira-kira bagaimana kita mengenali istilah syndrom kesehatan ASD tersebut lebih mendalam?

Mari kita mengenal ASD tersebut dalam berbagai ulasan dibawah ini.

Fakta menyebutkan bahwa Autisme Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan kesehatan mental yang tidak diketahui secara spesifik penyebab nya

Autisme Spectrum Disorder (ASD) dialami oleh anak sebelum memasuki usia 3 tahun dan akan berlangsung seumur hidup.

Namun terkait sindrom autisme ini gejala-gejala yang ditimbulkan dapat dikurangi secara bertahap.

Penyebab terkait gangguan kesehatan mental ini tidak dapat diketahui secara spesifik.

Namun dapat menyebabkan beberapa kemungkinan yang telah diinformasikan oleh CDC (Centee Of Disease Control) yaitu memiliki saudara yang mengidap ASD atau Autisme Spectrum Disorder,

memiliki kondisi genetik tertentu yaitu sindrom fragile x atau tuberos sclerosis,

mengalami kompilasi selama kelahiran dan anak yang dilahirkan ketika orang tua berusia lebih tua dari usia kehamilan pada umumnya.

Selain itu sindrom ASD lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.

Cleveland Clinic juga mengatakan bahwa tidak ada penyebab pasti untuk mengetahui seseorang mengalami gangguan kesehatan mental ASD,

namun dapat memiliki kemungkinan yang terjadi seseorang mengalami gangguan kesehatan mental tersebut.

Diagnosis terkait Autisme Spectrum Disorder (ASD) dilakukan melalui Pendekatan secara khusus

Diagnosis terkait sindrom Autisme Spectrum Disorder (ASD) terkadang sulit dilakukan oleh beberapa dokter dalam menangani gangguan kesehatan mental.

Namun dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan secara khusus kepada pasien yang mengalami gangguan kesehatan mental sindrom tersebut.

Pendekatan tersebut bertujuan untuk membuat diagnosis terkait sindrom ASD karena tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis hal tersebut hal ini karena gejala dan penyebab yang ditimbulkan setiap pasien berbeda-beda.

Pendekatan secara khusus tersebut dilakukan dengan cara mengamati perilaku perkembangan anak,

pemeriksaan medis dan neurologis anak, melakukan evaluasi kemampuan kognitif anak,

melakukan evaluasi kemampuan bahasa anak, dan kemudian melakukan diskusi kepada orang tua terkait perilaku perkembangan anak.

Selanjutnya melakukan evaluasi keterampilan anak sesuai usianya dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, seperti makan, bermain, berpakaian, serta menggunakan toilet.

Selain itu dapat melakukan berbagai tes medis seperti tes darah, tes pendengaran,

tes genetik untuk mengetahui pemicu munculnya sindrom autisme tersebut.

Hasil pendekatan secara khusus ini dapat memberikan rekomendasi hasil diagnosis terkait kesehatan mental yang dialami serta perawatan yang tepat untuk pasien, khususnya pada anak.

Perawatan pengidap sindrom Autisme Spectrum Disorder (ASD) dapat berlangsung hingga seumur hidup

Perawatan terhadap pengidap gangguan mental Autisme Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi yang tidak boleh diabaikan dalam melakukan perawatannya.

Hal ini karena sindrom autisme tersebut merupakan gangguan mental yang terjadi seumur hidup,

dan apabila tidak dilakukan perawatan yang benar dan tepat, maka gejala gangguan kesehatan mental ini berlanjut semakin parah.

Perawatan yang dilakukan bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan anak yang selama ini terbatas.

Karena sindrom autisme yang dialami sehingga dapat mengurangi gejala gangguan sindrom autisme yang dirasakan serta dapat mendukung perkembangan dan pembelajaran bagi anak.

Perawatan yang dilakukan dengan cara terapi perilaku dan komunikasi yang dapat membantu anak mengalami kesulitan bersosialisasi, berbahasa, dan berperilaku kepada teman-teman di sekitarnya.

Perawatan terapi wicara dan bahasa yang dapat membantu anak dalam meningkatkan kemampuan pemahaman dalam berbicara dan penggunaan bahasa sehari-hari.

Terapi okupasi yang berfokus pada peningkatan kemandirian anak dalam melakukan aktivitasi sehari-hari serta dapat meningkatkan keterampilan fisik anak, sensorik, motorik, gerakan halus pada jari dan gerakan tubuh yang lebih besar agar dapat berfungsi secara optimal.

Kemudian terapi pendidikan yang bermanfaat bagi anak pengidap sindrom ASD yang mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran di sekolah.

Selanjutnya Perawatan terapi keluarga dengan mempelajari cara berinteraksi dengan anak yang mengidap sindrom ASD hal ini dapat mendorong anak dalam meningkatkan keterampilan sosial, mengelola perilaku, dan berkomunikasi.

Selain itu juga didukung dengan obat-obatan tertentu untuk mengendalikan gejala yang akan terjadi pada pengidap sindrom ASD tergantung masalah gejala yang dihadapi.

Pada gejala ringan dapat diobati dengan obat antidepresan sedangkan pada gejala yang berat dapat diobati dengan obat antipsikotik.

Intervensi Keluarga bagi Anak yang mengalami ASD

Perlu adanya pendampingan keluarga terdekat dan orang-orang sekitarnya terhadap anak yang mengalami sindrom ASD.

Seperti dengan berkonsulitasi kepada dokter ahli kesehatan mental, melakukan kunjungan ke dokter secara rutin dan selalu berkomunikasi kepada anak.

Melakukan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan juga diperlukan sehingga anak dapat mengurangi gejala gangguan kesehatan mental tersebut dan anak dapat menjalani kehidupannya dengan baik dan menyenangkan.

Hal ini merupakan gangguan kesehatan mental yang tidak boleh diabakan untuk perkembangan anak,

dan selalu berkonsultasi dengan dokter ahli untuk menangani lebih lanjut agar pertumbuhan dan perkembangan anak semakin baik hingga di masa depan.

Leave a Comment